Sabtu, 20 Desember 2014

Saat Bersungguh-sungguh Mencintai

Perasaan adalah hal yang sangat mungkin berubah dengan cepat. Bisa saja, pagi hari kau begitu sayang pada seseorang, malamnya sudah berubah benci. Namun, perasaan cinta yang  kuat tidak begitu. Ia akan tetap terasa meski berkali-kali hari berganti. Ia akan tetap menjadi hal yang kau inginkan pulang. Meski berkali-kali kau ditinggal pergi. Meski perasaan itu dibunuh olehnya yang kaucintai. Yang namanya perasaan akan tetap menjadi perasaan. Cinta tetaplah cinta. Dalam hal perkara hati, sedih dan bahagia hanyalah suasana. Tidak akan ada yang mampu mengubah apa-apa yang belum seharusnya berubah.

Terkadang seseorang butuh diyakinkan. Bukan karena cintanya begitu tinggi untuk kaugapai. Namun setiap orang punya sisi yang membuatnya tidak mudah lagi percaya. Ia tak mudah lagi menerima orang baru dalam hidupnya. Sebab, terkadang begitu banyak orang baru yang datang. Hanya datang dengan perasaan yang sisa-sisa dan berakhir membuang. Orang-orang yang seperti ini selalu hati-hati untuk hal baru. Ia butuh diyakinkan dengan lebih. Dan itu hal yang wajar saja.

Lalu apakah cinta memang harus meyakinkan? Iya, tentu. Mencintai adalah perkara meyakinkan. Hal yang harus kautunjukan padanya dengan perbuatan. Meyakinkan kau mencintainya bukan berarti kau memaksakan dia tahu kau mencintainya. Tugasmu adalah menjadikan dirimu sebagai makluk yang jatuh cinta dengan layak. Meski untuk hal jatuh cinta yang layak ini susah diterapkan. Begitu banyak orang yang jatuh cinta suka berlebihan. Ya, cinta terkadang memang membuat hal-hal terlihat berlebihan. Itu yang harus dikendalikan.   

Bagi orang-orang yang bersungguh-sungguh, mencintai berarti harus memiliki. Namun tidak semua orang yang bersungguh-sungguh paham. Bahwa mencintai berarti harus memiliki dengan cara tidak memaksakan hati. Kalau memang cinta, tunjukan saja dengan perbuatan. Lakukanlah sepanjang kau bisa. Kalau pada akhirnya apa yang kaulakukan tidak juga membuatnya peduli. Barangkali dia memang bukan cinta sejatimu. Namun, jika dia memang cinta yang dijanjikan Tuhan untukmu. Akan ada-ada saja jalan yang mempertemukan nanti. Meski kadang, butuh waktu yang begitu lama


Minggu, 07 Desember 2014

Tak perlu tergesa-gesa.

Belakangan aku hanya ingin sendiri. Menikmati hari-hari sendiri. Tanpa siapa pun. Tidak ada alasan yang perlu dijelaskan untuk itu. Aku hanya ingin sendiri. Dan itu cukup untuk menjadi alasan yang kuat. Bukankah semua yang kita jalani berawal dari keinginan? Meski tanpa kita sadari, meski tidak atas keinginan kita sendiri. Semisal, kamu harus kuliah di jurusan A, itu ingin orang tuamu. Walau pun kau tak ingin, kau tetap menjalaninya. Apalagi yang sudah menjadi keinginan sendiri, tentu tidak butuh penjelasan. Sebab, apa yang diinginkan diri sendiri memang tidak semuanya harus dijelaskan kepada orang lain. Jika itu berkaitan dengan hal yang bisa dilakukan sendiri. Seperti aku sedang ingin sendiri. 

Tidak kupungkiri, sejak berakhir luka denganmu. Rasanya untuk jatuh cinta kembali cukup sulit. Perasaan yang ada di dadaku semakin rumit. Padahal aku bukan orang yang menutup hati kepada orang lain. Sama sekali tidak. Aku selalu dengan senang hati mengenali orang baru. Namun entah kenapa sejak hari di mana kau dan aku tidak lagi menjadi kita. Aku merasa lebih baik sendiri saja. Sampai waktu yang tidak pernah bisa kuperkirakan. Aku hanya menikmati apa yang aku jalani. Merasa bahagia, meski bukan dengan cara bahagia kebanyakan orang. Berkekasih.

Namun beberapa hari belakangan. Aku merasa nyaman dengan seseorang. Entahlah, perasaan nyaman seperti apa yang aku rasakan. Kami hanya berbalas pesan singkat. Dan terkadang butuh waktu yang lama untuk menerima balasan darinya. Atau aku kadang juga butuh waktu yang lama untuk membalas pesan singkatnya. Bukan karena apa-apa. Aku memang sedang sibuk dengan kuliahku. Hingga saat pesan masuk ke ponsel. Aku sering kali mengabaikan. Maklum saja, selama ini hanya operator selular yang iseng. Atau promo tidak jelas yang mengirimiku pesan singkat. Bukan ngenes, aku memang lebih suka berteleponan kalau sedang ada urusan mendesak.

Entahlah, aku juga tidak mengerti. Beberapa kali menerima pesan singkat darinya. Terasa agak berbeda. Aku seolah menantikan dia membalas pesanku. Meski tetap sibuk dengan pekerjaanku. Tidak ada perasaan menggebu-gebu seperti jatuh cintanya remaja. Semua berjalan dengan semestinya. Aku senang, dia sekarang ada di kepalaku lebih sering dari kesepian tanpamu. Aku senang, jika hari ini aku mulai merasa, aku tidak sedang ingin sendiri. Setidaknya, aku senang membalas pesan singkat darinya. Meski sering membalasnya telat. Ya, tak banyak memang yang bisa kuharapkan, hanya saja, kalau ini jatuh cinta.
Jatuhlah dengan semestinya. Tak perlu tergesa-gesa ~


Minggu, 16 November 2014

Perihal yang aku tulis.

Mungkin kau bertanya-tanya dalam hatimu. Saat melihat status fesbuk, twitter, tulisan di blog, instagram, dan apa saja yang aku tulis. Hampir semuanya kesedihan. Patah hati. Tak bahagia. Dan kau pasti merasakan. Tulisan-tulisan itu kutulis untukmu. Seolah aku adalah orang yang gagal move on. Orang yang sama sekali tak bisa bahagia lagi setelah kau pergi. Kau tak salah menduga-duga seperti itu. Dugaanmu tak sepenuhnya salah. Ada benarnya juga. Benar, aku masih sering (meski tidak semua tulisanku) menulis tentang kamu. Aku masih senang melakukan hal yang sama. Mencurahkan semua perasaan di dadaku. Mengalirkannya ke dalam sungai kata-kata. Kubiarkan ia hanyut berbentuk luka.

Namun kau salah jika kau menduga aku tidak bahagia. Menduga aku patah hati sepanjang hari. Kau harus tahu, aku sudah kembali bahagia. Aku bisa menikmati hari-hariku. Tak lebih buruk dari pada saat bersamamu. Meski jujur, kuakui di awal kepergianmu. Aku sempat tak percaya lagi untuk memulihkan hati. Namun seiring waktu berlalu, semua perasaan sakit itu pun berlalu. Semuanya kembali lega. Dan kadang, aku hanya ingin mengenangmu. Memilih menuliskan apa saja yang kuingat tentangmu. Tidak ada maksud lain, selain menikmati bahwa ternyata sesekali aku masih merindukanmu.

Jika saat membaca tulisan ini muncul di benakmu pertanyaan: Kenapa kau tidak menulis tentang orang lain saja?

Sebenarnya begini. Aku ini tak selalu menulis tentangmu. Kadang, tulisan sedih yang lain pun. Juga untuk seseorang yang lain. Kau harus pahami. Banyak hal yang aku lakukan di luar sana. Tak hanya denganmu saja aku pernah berbagi cinta. Akan sangat lemah jika kau beranggapan semua yang kutulis adalah perihal kamu. Bagaimana pun juga, bagiku kau hanya sebatas kenangan yang pernah ada. Dan saat ini, aku hanya menikmati rindu yang sesekali masih terasa.

Setelah kau pergi, aku tetap menjadi manusia seperti kebanyakan. Merasakan jatuh cinta lagi. Melakukan hal-hal yang dilakukan orang pacaran lagi. Menikmati masa-masa patah hati lagi. Lalu bertemu dengan cinta yang baru lagi. Aku menikmati semuanya. Aku sama sekali tidak keberatan memahami orang baru. Belajar mengerti lagi. Lalu menjatuhkan hatiku kepadanya. Membiarkan perasaan-perasaan aneh berkembang di dada. Namun sebagai orang yang pernah terlalu dalam mencintaimu tetap saja menyisakan banyak hal.


Jumat, 24 Oktober 2014

Ternyata Tuhan tidak sekejam itu.

Aku pernah berada fase ini: mencintaimu saja, tanpa ingin siapa-siapa.

Aku juga tidak mengerti mengapa ada perasaan sedalam itu. Perasaan yang membuatku buta akan adanya kebahagiaan lain. Aku tidak bisa menatap rasa dari orang lain, sebab dalam pikiranku hanya kamu. Bahkan sekedar berteman saja aku enggan. Jangankan membuka hati, mengetahui seseorang memiliki perasaan kepadaku saja, aku akan segera menjauhinya. Begitulah aku ingin menjaga perasaan ini kepadamu. Bagiku tidak ada cinta lain selain cinta kepadamu.

Namun suatu hari perasaan itu menghempaskanku. Ternyata kau tidak memiliki sikap yang sama denganku. Bukan aku saja orang yang kau inginkan. Kau melepaskanku dengan pelan-pelan, tanpa aku sadari. Sudah sejauh itu saja kau menjauh. Membuat semua yang sudah kubangun di kepalaku runtuh.

Aku hampir saja kehilangan akal sehat. Merasa hidupku tidak berarti lagi. Bertanya pada diriku sendiri, dengan siapa aku hidup nanti? Perasaanku terlanjur kuserahkan kepadamu seluruhnya. Remuk sudah semua doa. Bahkan aku sempat berpikir, kenapa sekejam ini Tuhan menciptakan akhir?

Hari berlalu dengan lelah dan patah hati. Hingga akhirnya aku tersadar lagi. Aku salah!


Di dunia ini ada fase seseorang akan mencintai sepenuh hati. Setidaknya sampai kali pertama ia patah hati. Saat di mana seseorang menumpangkan kebahagiaannya hanya kepada satu orang yang lain. Aku memilih kaulah orang itu. Padahal kebahagiaan tidak pernah benar-benar bisa ditumpangkan kepada seseorang. Sebab terlalu sayang seringkali mengaburkan batas mana hal yang sewajarnya dan mana hal yang tidak seharusnya. Aku tidak menyadari, bahwa kebahagiaan bersamamu hanya berlaku saat kau bersamaku, jika kau memilih pergi seharusnya kebahagiaan itu juga berpindah pada orang lain. Tanpa perlu kusesali. Karena di dunia ini begitu banyak cinta yang indah, dan yang lebih indah.

Kamis, 23 Oktober 2014

Menyelesaikan yang kusut.

Di dunia ini ada yang bisa diselesaikan dengan mudah, ada juga yang butuh proses panjang. Begitu juga untuk urusan perasaan. Ada hal yang terkadang butuh kepala dingin, emosi yang stabil, pikiran jernih, agar semua yang rusak bisa pulih. Agar semua yang tercabik bisa kembali baik. Agar yang luka masih sanggup kita banggakan sebagai kita. Sebab itu, dengarkan aku, mari kita tenangkan kepala sejenak. Kita redakan ego kita. Apapun yang diselesaikan secara terburu-buru, seringkali menyisakan sesal dan pilu.
Kita tidak perlu saling menyalahkan. Juga tidak usah mencari siapa yang salah. Karena sejatinya, dalam hubungan asmara, berbeda pendapat adalah hal yang wajar. Kita harus sadar, semua masalah yang timbul bersebab dari kita berdua. Mungkin saja salah satu dari kita tidak mau mengalah, atau pun salah satu dari kita terlalu lelah. Sementara masih ada sesak dan pinta tanpa pertimbangan. Permohonan tanpa pengertian. Dan kita terluka ulah ke-tidak-inginan kita untuk sedikit lebih merendah, untuk selalu memahami. Belajar saling peduli lagi, seperti saat pertama kita saling jatuh hati. Kita tidak pernah berpikir akan bertengkar dan menanam luka kan?
Barangkali kita butuh waktu untuk menenangkan diri. Mari diamkan sejenak dulu. Namun jangan berlama-lama. Hal yang terlalu lama dipendam juga tidak baik. Setelah kita rasa kepala sudah tenang, dan emosi tak lagi memanaskan dada. Kita duduk berdua. Berbicara dengan nada suara yang menyenangkan lagi. Bergantian berbicara. Sampaikan dengan baik. Belajar juga saling mendengarkan tanpa menyela. Dan yang paling penting, kita harus melakukannya dengan perasaan bahwa kita saling jatuh cinta lagi.

Sabtu, 18 Oktober 2014


Hal-hal mungkin menyebalkan dan selalu aku lakukan untukmu.

Maaf, jika aku terus saja menempatkanmu menjadi orang paling sibuk di kepalaku. Bahkan aku tak pernah merasa kau berhenti berjalan barang sejenak di ruang pikiranku.

Karena itu, aku menjadi manusia yang kadang berlebihan perihal menanyakan kabarmu, mengingatkan kau makan, melarangmu begadang, dan hal-hal lainnya. Iya, mungkin itu adalah hal basi yang membosankan bagi orang lain. Namun harus kau tahu, aku hanya ingin tetap waras dengan tidak memendam semua itu di kepalaku sendiri.

Maaf juga, aku yang mencari cara agar bisa mendengar suaramu sampai larut malam di hari libur melalui telepon genggamku. Juga yang membuatmu harus membalas chatku sepanjang hari. Itu semua kulakukan agar aku tidak benar-benar menjadi gila. Karena kau terlalu sibuk di kepalaku. Menuliskan setiap detik namamu.

Ya, aku tahu, mungkin suatu hari kau akan bosan dengan semua tingkahku itu. Mungkin saja kau akan menemukan orang yang lebih asyik dari aku untuk diajak bicara. Atau mungkin, dia yang tidak sama sekali membuatmu merasa resah seperti sikap agresifku. Mungkin juga pada saat itu kau akan memintaku pergi, berhenti melakukan semua tingkah anehku, berhenti menjadi orang yang selalu mencerewetimu ini itu.


Jika itu adalah satu-satunya cara untuk membuatmu bahagia. Aku bisa saja berhenti menjadi waras dengan berhenti melakukan semua hal itu kepadamu. Aku bisa tidak lagi mengingatkanmu makan, tidak melarangmu begadang, berhenti mendengar suaramu, berhenti mencari cara untuk mengirim pasan singkat sepanjang hari kepadamu. Meski, aku tidak akan pernah mungkin berhenti berharap kau sadar, itu semua kulakukan demi cinta, meski caraku tidak selalu membuatmu suka.
Pada saat begini, kau dan aku masih tetap cinta.

Suatu hari nanti kita akan disibukan oleh urusan masing-masing. Saat di mana cinta dan setia adalah taruhan. Akan ada masa di mana jarak tak lagi terasa ringan, kita akan dihantam oleh rasa yang tak karuan. Kelak, aku mungkin akan lupa mengabarimu karena sibuk, atau mungkin kau tidak ingat membalas pesanku karena banyaknya pekerjaanmu. Pada saat seperti itu kau harus ingat, bagaimana kita telah melalui waktu yang tidak singkat. Dan kau harus kembali percaya, ada hati yang masing saling mengikat di antara sibuknya dunia kita.

Tak akan ada yang membuat kita tetap kuat melalui semuanya, selain terus belajar menjaga dan tetap percaya; kita punya tujuan yang sama. Apa pun yang aku lakukan saat ini adalah untukmu dan kita di masa nanti, juga yang kamu perjuangkan sepenuh hati adalah hal terbaik untuk kita berdua kelak.

Tak usah ragu hanya karena aku tidak mengabarimu. Namun jangan kau diamkan kabarku yang terkadang kabur, bukankah kita telah sepakat untuk saling mengingatkan. Bahwa kita sudah punya rencana-rencana yang harus kita wujudkan berdua. Apa yang telah kita lalu bersama memang tidak selayaknya sia-sia. Maka pada saat seperti itu, saat satu di antara kita seperti orang yang sudah tak menentu, saat itulah satu lainya harus merendahkan ego. Memberi kabar lebih dulu, atau tetap berpikir semuanya akan baik-baik saja. Karena kita memang akan baik-baik saja. Aku sudah menetap di hatimu, kamu sudah menetap di hatiku. Kita hanya sedang sibuk memperjuangkan impian, yang kelak akan menjadi bagian dari senyuman kita berdua.


Saat seperti ini memang tidak akan mudah, tapi bukan alasan untuk menyerah dan kalah.
Cinta adalah kesempatan

Barangkali memang benar begitu. Kita hanyalah luka-luka di masa silam yang tengah mencoba mencari cara untuk lupa dalam diam. Kau yang pernah memuja dan memuji rindu kini tak lebih hanya kenangan yang larut dan ku biarkan berlalu. Bukan karena cinta dilukai lantas benci merajai, tapi karena memang sudah semestinya yang pergi dilepaskan sepenuh hati. Bagiku, kau hanyalah kenangan yang tak lagi ku harapkan pulang.

Sudah semestinya kita berkemas. Meninggalkan taman-taman yang selalu datang saat senja, bersama kenangan dia memeluk manja. Semua yang indah dulu, hanyalah kisah yang pernah ada. Hari ini dia sudah tak bernyawa. Aku tidak ingin menyalahkanmu perihal ini. Mungkin akulah yang salah kenapa semuanya berakhir patah. Namun, sudahlah. Jangan kau ungkit lagi rasa-rasa yang tak mungkin bangkit kembali.

Carilah rindu-rindu yang lain. Jika pun katamu akulah yang kau butuhkan. Namun pada nyatanya saat aku selalu ada, kau selalu merapuhkan. Inginmu yang selalu tinggi, pintamu yang selalu harus kupenuhi. Kau bahkan lupa bahwa cinta adalah sepakat, bukan hanya kau saja yang harus ku dengar. Belajarlah untuk mengerti mencintai itu menggunakan hati bukan sekedar bersikeras emosi.


Mungkin ada satu hal yang harus kau ingat,cinta adalah kesempatan. Mencintai adalah merawat ingatan, agar tak luka, agar tak lupa. Pada hati kau akan tetap setia. Belajar mencari kata seiya. Belajar mengerti bahwa ingin kita tak selalu sama, dan selalu belajar bagaimana kita mencari keputusan berdua. Namun, semua itu sudah kau sia-siakan. Kau diberi kesempatan namun kau seperti orang yang tak butuh aku. Lantas, apakah kini aku harus memberimu kesempatan lagi? Di saat yang sama ada seseorang yang sudah membangun rumah di hatiku setelah kau pergi.

Kamis, 16 Oktober 2014

Ini cinta, bukan tali yang rapuh.

Nanti kau juga akan tahu, bahwa hidup bukan sebuah permainan. Begitu pun hubungan yang kita jalani. Tidak sebuah permainan. Tak ada yang seharusnya kau tarik-ulur, karena aku bukan layangan yang diikat tali kepadamu. Tak ada yang harus kau cari, karena cinta bukan anak kecil yang hilang.

Saat dia memilih pergi. Hampalah hatimu. Tak akan ada lagi aku. Tak akan ada lagi kita. Juga semua rasa akan sirna. Sebab itu hargailah setiap hal yang masih kita punya. Jika belum sepenuhnya mampu melepaskan, jangan pura-pura melepaskan. Apa pun bisa diselesaikan. Kau harus ingat, yang kau buang (meski menurutmu hanya pura-pura) seringkali tidak bisa pulang. Mungkin juga tak pernah lagi ingin pulang.

Aku mencintai pemikiranmu. Yang menjadikan kita menjadi lebih dewasa. Yang menjadikan kita percaya; masih ada cinta yang sesungguhnya. Yang realistis. Yang tidak hanya sekedar menye-menye manis. Jika kau menjadikan hubungan ini sebagai ajang uji-menguji, kau salah. Tak ada ujian dalam hal mencintai. Kita bukan guru dan murid di SD. Kita sepasang kekasih yang terus mencari penyelesaian. Bukan mencari teka-teki, tentang siapa yang benar sendirian.

Barangkali kau sering mendengar. Ada banyak pasangan yang putus tiap sebentar (mungkin teman-temanmu) lalu mereka jadian lagi. Menjalani hubungan seperti biasa lagi. Seolah hubungan mereka lentur. Tidak ada komitmen. Ada masalah sedikit, putus. Emosi sedikit, putus. Lalu pura-pura merasa bersalah. Meminta untuk kembali menyambung cinta. Apa kau tidak pernah berpikir? Jika seutas tali sudah terlalu banyak buhul penghubung (yang putus disambung-sambung lagi) ia tidak akan pernah sekuat semula. Ia akan bisa putus kapan saja, dan kau tidak akan pernah bisa menyambungnya lagi. Dan satu hal lagi yang harus kau tahu. Aku sama sekali tidak pernah ingin menjalani hubungan rapuh (hubungan yang terlalu banyak buhulnya). Karena kita tidak akan sekuat dulu. Dan ketika semua itu terus berlanjut kita hanya menikmati sebuah permainan putus-sambung. Bukan cinta yang utuh untuk menemukan bagaimana menjadi dewasa sebenarnya. Ini tentang bagaimana menjaga hati, bukan seutas tali yang rapuh.


Pada waktunya.

Ada banyak hal yang harus kita pahami di dunia ini. Salah satunya perihal perubahan. Ya, semua pasti akan berubah pada waktunya. Begitu banyak yang awalnya teramat cinta kemudian berubah biasa saja. Atau mungkin malah bertolak belakang, menjadi saling benci. Ada yang awalnya saling memahami kemudian berubah saling egois. Merasa lebih penting dan merasa selalu ingin menang sendiri. Padahal dulu mereka sepakat untuk belajar saling mengerti. Dan hari ini mereka berubah.
Namun harus kita pahami, perubahan tidak terjadi begitu saja. Ada proses yang membawanya ke arah itu. Semisal, nasi tidak akan pernah menjadi nasi jika saja beras tidak pernah ditanak. Proses tanak inilah yang akan menentukan kualitas nasi. Jika tidak tepat takaran, nasi bisa saja menjadi bubur. Atau malah menjadi arang. Gosong.
Begitulah kita. Proses yang membuat kita mengalami perubahan. Jika kita melaluinya dengan baik. Maka kita akan berubah ke arah yang lebih baik. Cinta akan semakin utuh bila dibangun dengan hati yang penuh. Namun bila kau dan aku hanya setengah hati, perlahan-lahan kita akan kehilangan kendali. Lalu sampai pada tahap hanya ingin menang sendiri. Kita akan lupa bahwa kita punya tujuan yang indah di awal rencana. Kita akan menjadi bubur, bukan hanya bubur yang hancur, bisa jadi bubur yang basi. Hubungan yang kita lalui tidak lagi pakai hati namun lebih banyak emosi.


Tak pernah habis

Padamu cinta tak pernah habis. Meski seringkali dicuci oleh tangis. Aku memilih bertahan bukan karena takut kedinginan. Bagiku tetap bersamamu melebihi keinginan. Aku manusia yang utuh membutuhkanmu. Yang rela jatuh membasuh sedu sedanmu. Tanpa pernah kau minta, karena cinta selalu. Ia kembali pulih dari luka-luka, menjagamu tanpa pamrih seisi dada.
Tak ada cinta yang sempurna. Aku pun pernah membuat retak-retak di dadamu. Tanpa kusadari, tanpa ku ingini, jatuh kata-kata yang menyakiti. Namun ingin kusampaikan kepadamu, tak pernah terniat aku menyakiti. Maafkanlah segala salah. Akan kupeluk semua yang patah. Biarkan kembali rindu lahir dari sebentuk harapan yang mengalir. Doa-doa mungkin tak akan berharga, tanpa rasa syukur karena kita masih ada.
Peluklah segala harapan, biar kita tak tersesat menuju tujuan. Denganmu saja ingin ku menua. Memetik segala doa-doa di kala senja. Hingga sepasang kita hanya tinggal nama. Raga akan menghilang, tapi cinta akan selalu dikenang.


Kita harus percaya.

Aku hanya ingin memercayaimu sepenuhnya, karena menjalani cinta meragu itu memilukan. Aku tidak ingin kita begitu. Untuk apa kita tetap bersikeras bersama kalau nyatanya kita masih saling meragukan apa yang kita rasakan. Sebab itu, aku memilih percaya kepadamu sepenuhnya, karena hatiku pun sudah memilih menetap hanya di kamu seutuhnya.

Kita adalah sepasang sayap yang berusaha terbang tinggi. Mengalahkan angin-angin yang bisa saja menjauhkan kita kapan pun dari semua yang kita ingin. Dan kita harus tetap saling menguatkan untuk melewati semua itu. Saat kau lemah, akulah yang akan selalu memapahmu. Saat aku kelelahan, percayamulah yang akan selalu menguatkanku. Kita harus tetap percaya, ada kebahagiaan yang sama-sama kita inginkan. Karena itu kita akan tetap terbang bersama, menghadapi apa saja yang akan menghadang kita.

Bukankah kita tahu, bahwa cinta-cinta dijatuhkan Tuhan di dada kita hanya untuk membuat kita saling setia dan menjaga. Karena itulah percaya sepenuhnya itu memang selayaknya kita pegang. Agar rindu-rindu tak hilang, agar resah-resah tidak membuat kita merasa bimbang. Agar dua hati yang ada di dadamu dan dadaku tetap merasa tenang.

Apa pun itu akan bisa kita lewati. Saat kita tidak mengingkari apa yang telah kita sepakati. Mungkin akan ada batu-batu terjal yang akan kita harus langkahi. Namun tanganku diciptakan untuk menggenggam tanganmu. Matamu diciptakan untuk melihat betapa aku mencintaimu, pun sebaliknya. Bahkan saat batu-batu terjal melukai kaki kita, kita harus tetap melangkah. Karena kita akan selalu percaya, kita diciptakan untuk selalu bersama. Bukan untuk dikalahkan oleh ragu, tapi untuk memperjuangkan apa yang membuat kita merindu.

Kau percaya aku milikmu, aku percaya kau untukku.
Pahamilah, ini hanya cara mencintai yang terkadang terkesan egois bila kau tak memahami tujuan kita.


Ini bukan tentang aku yang memintamu melupakan masalalumu. Bukan juga tentang aku yang ingin kamu menjauh dari masalalumu. Namun ini tentang bagaimana kamu harus paham; bahwa adakalanya kehidupan kita yang sekarang tidak perlu lagi mengikut sertakan masalalu. Bukan karena cemburu, bukan karena takut dia merebutmu, tapi karena memang seharusnya kita berjalan ke depan. Bergandeng tangan berdua saja. Aku meninggalkan masalaluku. Dan kamu juga tak perlu membawa dia di antara kita. Aku bisa percaya penuh padamu, mungkin tidak pada dia.

Kau tahu? Masalalu itu ibarat benalu. Saat kita memberinya kesempatan untuk ada –hidup di antara kita. Pelan-pelan dia akan menghisap kebahagiaan kita. Dia akan ikut campur dalam apa yang kita jalani. Sengaja atau pun tidak begitulah pada kenyataannya. Tak usah lupakan, hanya saja biasakanlah diri untuk hidup tanpa dia. Karena sebenarnya orang yang benar-benar melepaskan akan melepaskan seutuhnya. Dan orang yang benar-benar mencintai akan mencintai sepenuhnya.

Biarlah masalalu tetap ada di belakang. Jangan ajak beriringan dengan kita. Biar dia mencari jalannya sendiri. Fokuslah pada kita untuk memperjuangkan apa yang kita cari. Ini bukan perihal aku membenci masalalu, bukan juga perihal menunjukan keegoanku. Hanya menjagamu dan menjaga aku dari masalah yang mungkin saja bisa terjadi. Kita akan dihadapkan oleh banyak tantangan, dan seharusnya itu tantangan yang ada di depan. Bukan tantangan dari masalalu yang sengaja kita beri kesempatan untuk berdampingan dengan kita.

Bukan untuk menutup diri. Hanya saja. Kau dan aku sudah sepakat untuk menuju masa depan. Tolong pahami,ini bukan cara memaksakan hati, juga bukan cara untuk membatasimu. Ini hanyalah usaha untuk membuat kita menjadi lebih paham. Bahwa banyak hal yang jadi masalah adalah hal yang sengaja kita biarkan hidup dengan hidup kita. Hal yang kita anggap sepele, namun bisa merusak seisi dada.
Biarlah yang sudah tertinggal tetap tanggal. Agar hatimu dan hatiku tetap tunggal. Agar apa yang kita impikan bisa kita wujudkan. Agar apa yang kita jalani bisa kita nikmati. Jangan biarkan hal yang tidak seharusnya merusak bahagia yang ada. Bukankah kebahagiaan kita yang harus kita perjuangkan? Jika memang tak ada tujuan yang beda di antara kita.