Minggu, 12 April 2015

Sisi Baik Dilukai

Di dunia ini banyak sekali hal ajaib yang bisa kamu dapatkan. Bahkan dalam hal yang mungkin menurutmu terburuk sekali pun. Salah satu kondisi untuk kamu bisa menemukan keajaiban adalah saat kamu dilukai. Saat orang yang kamu sayangi, memilih pergi dengan alasan kamu dan dia sudah tidak cocok. Atau mungkin alasan kamu terlalu baik untuk dia. Meski pada kebanyakan kejadian, alasan sebenarnya adalah ada yang lebih baik baginya daripada kamu. Ada seseorang yang bisa membuatnya merasa lebih bahagia dibanding kamu. 

Sedihnya, saat dia –seseorang yang kamu sayangi itu, memilih pergi, kamu masih sangat cinta kepadanya. Kamu sedang tidak ingin pindah ke lain hati. Bahkan, bisa jadi kamu sudah merencanakan banyak hal di masa depan yang ingin kamu lalui dengannya. Tapi, dia tetap memilih pergi. Dia meninggalkan kamu dan melukai. Kamu tiba-tiba merasa dunia ini teramat kejam. Tiba-tiba merasa tidak punya harapan baik lagi. Wajar saja, kamu sedang patah hati. Seseorang  yang patah hati memang akan terbawa emosi sedihnya. Ia akan merasakan hidup ini pedih saja.

Terlepas dari rasa sakit di hatimu yang memang tidak bisa sembuh begitu saja. Ada satu hal yang harus kamu pahami. Luka itu bagian dari pendewasaan hidup. Satu hal yang menarik dari luka adalah, kamu bisa menikmati fase sembuhnya. Kamu bisa belajar, untuk menjadi sembuh luka harus bagaimana. Lalu jika suatu hari ada yang melukai lagi, kamu paham harus melakukan apa. Itulah alasan terbaik menikmati masa kamu dilukai. Jangan hanya galau lalu tidak belajar dari kesialanmu. Pahamilah, setiap hal yang terjadi ada hikmahnya. Termasuk saat kau dibuat patah hati dan hatimu terluka.


Kalau kamu luka, dan hari ini galau, itu wajar saja. Bersedihlah sesedih yang kamu bisa. Tidak usah takut menjadi  seseorang yang cengeng. Karena cengeng itu juga sifat manusia. Kamu masih menjadi manusia pada saat kamu terluka. Hanya saja, yang tidak baik adalah cengeng yang berlarut-larut. Kamu harus mengambil pelajaran berharga dari lukamu. Kamu harus tahu bagaimana proses penyembuhannya.  Nanti, kalau ada yang melukaimu  lagi, setidaknya kamu tidak harus galau selama saat kamu terluka pertama kali. Kamu bisa lebih kuat dari sebelumnya.

Kamis, 12 Februari 2015


Perpisahan seringkali membuat seseorang lepas kendali. Ada yang berusaha bertahan sendiri. Tidak mau menerima kenyataan bahwa orang yang dicintainya tidak lagi membutuhkannya. Setidaknya, sampai dia lelah. Atau mungkin sampai dia sadar bahwa berjuang sendiri itu melelahkan. Tidak ada gunanya memperjuangkan seseorang yang jelas tidak mau diperjuangkan. Namun tidak sedikit yang terus saja mencoba untuk memperbaiki segalanya. Atau ada yang lebih parah lagi, demi melupakan seseorang ia memaksa dirinya membenci.

Tidak salah, jika menurutmu membenci seseorang adalah cara terbaik untuk melupakan. Namun, ada hal yang perlu dipahami, bahwa rasa benci seringkali tidak pernah menuntaskan apa pun. Bahkan rasa benci seringkali melahirkan beban baru di kepala kita. Sebab, semakin kita membenci seseorang, semakin dia bersarang di kepala kita.

Harus dipahami, sekeras apa pun usaha membenci seseorang. Selama dia masih ada di hati kita, dia tidak akan mudah dilupakan. Sebab, itu berhentilah membenci. Karena pada dasarnya, melupakan hanyalah perkara berdamai dengan keadaan. Tidak mudah memang, namun membenci bukanlah cara yang baik untuk menghapus kenangan. Semuanya butuh proses. Agar melupakan berjalan dengan semestinya, tidak perlu memaksakan diri untuk terlihat kuat. Tidak perlu membenci, walau kamu tidak harus berbaik pada dia. Cobalah membiasakan diri, dengan mencintai diri sendiri lebih banyak lagi.

Untuk apa membenci seseorang yang pernah begitu kita cintai. Kalau saja dengan membenci kita malah menjadi lebih tidak tenang. Biarlah dia berlalu. Dengan menganggapnya sebagai kenangan. Semuanya akan menjadi lebih baik. Tidak perlu ada dendam, meski memaafkan mungkin begitu susah. Lakukan pelan-pelan. Tanamkan pada diri sendiri bahwa dia hanyalah kenangan. Seseorang yang mungkin lucu untuk ditertawakan. Hingga suatu hari nanti, tanpa terasa berat lagi, tanpa perlu membenci. Kita sudah sampai pada titik: ternyata saya sudah tidak mencintainya lagi.  


Senin, 09 Februari 2015

Perasaan yang memilih tetap ada.

Mungkin ini tidak penting bagimu. Bagian yang mungkin membuatmu bosan. Sebab, perasaanmu tak sama dengan apa yang aku rasakan. Percakapan-percakapan tak jelas itu, mungkin hal yang tidak terlalu berarti bagimu. Juga chat dan pesan singkat yang lebih sering kau balas dengan satu dua kata saja. Namun semua itu menjadi penting bagiku. Aku hanya ingin tahu, bahwa kau masih ada.

Mengetahui kabarmu dan memastikan kau baik-baik saja. Adalah salah satu cara yang membuatku tetap bahagia. Ini bukan perkara tetap bersamamu. Bukan juga perihal memilikimu. Lebih dari itu, ini tentang perasaan yang masih sama, perasaan yang hanya kepadamu saja. Hal yang tidak bisa kurasakan kepada yang lain. Tentang hati yang hanya ingin menaruh segala tentangmu di sana. Tentang ingatan yang tak pernah bersedia melepaskanmu terlalu lama.

Kau bisa mengelak, juga bisa menolak sesukamu. Tidak ada yang salah dengan apa yang kau lakukan. Kau bisa memilih dan melakukan apa pun yang kau mau. Tidak ada yang bisa memaksakan memang. Aku juga tidak ingin memaksakan apa-apa. Bahkan jika kau menjauh sekali pun, aku tidak bisa menahanmu. Aku juga tidak akan memohon agar kau tetap tinggal di sini. Namun, perasaan yang tumbuh dan terus bertambah bukan hal yang bisa kuperbuat semauku. Perasaan itu tetap saja ada, meski berkali-kali aku pun mencoba mengusirnya.

Barangkali, itulah salah satu sebab kenapa ada orang yang bertahan bertahun-tahun. Kenapa ada orang yang betah meski tak lagi dibutuhkan. Kenapa ada orang bersikeras meski hatinya berkali-kali dihancurkan. Kenapa ada orang tetap ingin menetap meski tak lagi ditatap. Sebab, terkadang cinta lebih kuat dari apa pun. Ia bertahan dan tak pernah mau pergi, meski tak juga memiliki. Ia tetap ingin menjadi ada bahkan pada seseorang yang menganggapnya tiada.


Kamis, 08 Januari 2015


Ada banyak hal di dunia ini yang selalu menjadi misteri. Barangkali, itulah cara Pencipta membuat dunia menjadi lebih menarik. Hal-hal yang kadang tidak pernah bisa ditebak. Ada juga hal-hal yang awalnya begitu menyenangkan, namun berakhir begitu menyakitkan. Perpisahan dan patah hati, misalnya. Pengkhiatan dan pengingkaran janji, contoh lainnya. Hal-hal seperti ini akan selalu dekat dengan manusia. Begitulah, hati dan perasaaan diciptakan. Ia memang ditakdirkan jatuh dan merasakan. Semua hal itu, sesungguhnya hanya bagian dari begitu banyak cara Pencipta memberi pemahaman.

Kau dan aku tidak pernah tahu. Apa yang akan terjadi esok. Apa yang akan terjadi sore nanti, malam nanti, bahkan satu detik setelah membaca tulisan ini. Begitu banyak kemungkinan. Bisa kabar baik, bisa jadi kabar yang membuat kita merasa kecewa. Sedih. Tidak jarang, seseorang yang paginya ceria. Sore hari sudah murung dan merasa hidup seolah tidak berguna. Bisa jadi yang kemarin baru saja menyatakan cinta. Pagi ini semuanya terasa hambar dan hampa. Ternyata yang dikatakan cinta bukanlah cinta. Hanya rasa penasaran saja. Alasan, terkadang cinta memang butuh diuji waktu yang lama sebelum menerima.

Pada hal yang lain, ada yang kemarin bersikeras tidak butuh. Pagi ini perasaan rindu mulai tumbuh. Perasaan sayang mulai datang. Tiba-tiba takut merasakan kehilangan. Tidak ada yang salah dengan semua itu. Perasaan memang diciptakan dengan cara kerja yang unik. Tidak ada yang tahu pasti apa yang akan terjadi. Hanya saja, satu yang bisa dilakukan, saat perasaan baik itu datang: jagalah. Hanya dengan menjaga, yang tumbuh akan terus utuh. Yang terasa akan tetap ada. Cinta tetaplah cinta. Kadang membuat kita begitu bahagia. Namun, tak jarang menghadirkan perih yang tidak terkira.


Hal lain yang harus dipahami adalah tentang bagaimana perasaan itu bertahan. Tidak ada yang abadi memang. Alasan kenapa kita harus belajar tidak berlebihan. Sebab, apa pun yang berlebihan seringkali menimbulkan hal yang tidak menyenangkan secara berlebihan pula. Berlebihan sayang bisa saja akhirnya berlebihan pula sakitnya. Saat semua kenyataan tiba-tiba saja berbalik. Sebab, segala yang dimulai pada akhirnya selalu minta diselesaikan. Mau tidak mau, siap tidak siap. Yang ingin berakhir akan tetap berakhir. Begitu banyak hal di dunia ini yang tidak bisa dipaksakan untuk tetap sama. Begitu pula, yang ingin pergi biarlah pergi. Pada saatnya tidak ada satu orang pun bisa mengelak dari perpisahan. Tidak ada gunanya memaksakan harapan untuk tetap tinggal pada sesuatu yang ingin tanggal.

Sabtu, 20 Desember 2014

Saat Bersungguh-sungguh Mencintai

Perasaan adalah hal yang sangat mungkin berubah dengan cepat. Bisa saja, pagi hari kau begitu sayang pada seseorang, malamnya sudah berubah benci. Namun, perasaan cinta yang  kuat tidak begitu. Ia akan tetap terasa meski berkali-kali hari berganti. Ia akan tetap menjadi hal yang kau inginkan pulang. Meski berkali-kali kau ditinggal pergi. Meski perasaan itu dibunuh olehnya yang kaucintai. Yang namanya perasaan akan tetap menjadi perasaan. Cinta tetaplah cinta. Dalam hal perkara hati, sedih dan bahagia hanyalah suasana. Tidak akan ada yang mampu mengubah apa-apa yang belum seharusnya berubah.

Terkadang seseorang butuh diyakinkan. Bukan karena cintanya begitu tinggi untuk kaugapai. Namun setiap orang punya sisi yang membuatnya tidak mudah lagi percaya. Ia tak mudah lagi menerima orang baru dalam hidupnya. Sebab, terkadang begitu banyak orang baru yang datang. Hanya datang dengan perasaan yang sisa-sisa dan berakhir membuang. Orang-orang yang seperti ini selalu hati-hati untuk hal baru. Ia butuh diyakinkan dengan lebih. Dan itu hal yang wajar saja.

Lalu apakah cinta memang harus meyakinkan? Iya, tentu. Mencintai adalah perkara meyakinkan. Hal yang harus kautunjukan padanya dengan perbuatan. Meyakinkan kau mencintainya bukan berarti kau memaksakan dia tahu kau mencintainya. Tugasmu adalah menjadikan dirimu sebagai makluk yang jatuh cinta dengan layak. Meski untuk hal jatuh cinta yang layak ini susah diterapkan. Begitu banyak orang yang jatuh cinta suka berlebihan. Ya, cinta terkadang memang membuat hal-hal terlihat berlebihan. Itu yang harus dikendalikan.   

Bagi orang-orang yang bersungguh-sungguh, mencintai berarti harus memiliki. Namun tidak semua orang yang bersungguh-sungguh paham. Bahwa mencintai berarti harus memiliki dengan cara tidak memaksakan hati. Kalau memang cinta, tunjukan saja dengan perbuatan. Lakukanlah sepanjang kau bisa. Kalau pada akhirnya apa yang kaulakukan tidak juga membuatnya peduli. Barangkali dia memang bukan cinta sejatimu. Namun, jika dia memang cinta yang dijanjikan Tuhan untukmu. Akan ada-ada saja jalan yang mempertemukan nanti. Meski kadang, butuh waktu yang begitu lama


Minggu, 07 Desember 2014

Tak perlu tergesa-gesa.

Belakangan aku hanya ingin sendiri. Menikmati hari-hari sendiri. Tanpa siapa pun. Tidak ada alasan yang perlu dijelaskan untuk itu. Aku hanya ingin sendiri. Dan itu cukup untuk menjadi alasan yang kuat. Bukankah semua yang kita jalani berawal dari keinginan? Meski tanpa kita sadari, meski tidak atas keinginan kita sendiri. Semisal, kamu harus kuliah di jurusan A, itu ingin orang tuamu. Walau pun kau tak ingin, kau tetap menjalaninya. Apalagi yang sudah menjadi keinginan sendiri, tentu tidak butuh penjelasan. Sebab, apa yang diinginkan diri sendiri memang tidak semuanya harus dijelaskan kepada orang lain. Jika itu berkaitan dengan hal yang bisa dilakukan sendiri. Seperti aku sedang ingin sendiri. 

Tidak kupungkiri, sejak berakhir luka denganmu. Rasanya untuk jatuh cinta kembali cukup sulit. Perasaan yang ada di dadaku semakin rumit. Padahal aku bukan orang yang menutup hati kepada orang lain. Sama sekali tidak. Aku selalu dengan senang hati mengenali orang baru. Namun entah kenapa sejak hari di mana kau dan aku tidak lagi menjadi kita. Aku merasa lebih baik sendiri saja. Sampai waktu yang tidak pernah bisa kuperkirakan. Aku hanya menikmati apa yang aku jalani. Merasa bahagia, meski bukan dengan cara bahagia kebanyakan orang. Berkekasih.

Namun beberapa hari belakangan. Aku merasa nyaman dengan seseorang. Entahlah, perasaan nyaman seperti apa yang aku rasakan. Kami hanya berbalas pesan singkat. Dan terkadang butuh waktu yang lama untuk menerima balasan darinya. Atau aku kadang juga butuh waktu yang lama untuk membalas pesan singkatnya. Bukan karena apa-apa. Aku memang sedang sibuk dengan kuliahku. Hingga saat pesan masuk ke ponsel. Aku sering kali mengabaikan. Maklum saja, selama ini hanya operator selular yang iseng. Atau promo tidak jelas yang mengirimiku pesan singkat. Bukan ngenes, aku memang lebih suka berteleponan kalau sedang ada urusan mendesak.

Entahlah, aku juga tidak mengerti. Beberapa kali menerima pesan singkat darinya. Terasa agak berbeda. Aku seolah menantikan dia membalas pesanku. Meski tetap sibuk dengan pekerjaanku. Tidak ada perasaan menggebu-gebu seperti jatuh cintanya remaja. Semua berjalan dengan semestinya. Aku senang, dia sekarang ada di kepalaku lebih sering dari kesepian tanpamu. Aku senang, jika hari ini aku mulai merasa, aku tidak sedang ingin sendiri. Setidaknya, aku senang membalas pesan singkat darinya. Meski sering membalasnya telat. Ya, tak banyak memang yang bisa kuharapkan, hanya saja, kalau ini jatuh cinta.
Jatuhlah dengan semestinya. Tak perlu tergesa-gesa ~


Minggu, 16 November 2014

Perihal yang aku tulis.

Mungkin kau bertanya-tanya dalam hatimu. Saat melihat status fesbuk, twitter, tulisan di blog, instagram, dan apa saja yang aku tulis. Hampir semuanya kesedihan. Patah hati. Tak bahagia. Dan kau pasti merasakan. Tulisan-tulisan itu kutulis untukmu. Seolah aku adalah orang yang gagal move on. Orang yang sama sekali tak bisa bahagia lagi setelah kau pergi. Kau tak salah menduga-duga seperti itu. Dugaanmu tak sepenuhnya salah. Ada benarnya juga. Benar, aku masih sering (meski tidak semua tulisanku) menulis tentang kamu. Aku masih senang melakukan hal yang sama. Mencurahkan semua perasaan di dadaku. Mengalirkannya ke dalam sungai kata-kata. Kubiarkan ia hanyut berbentuk luka.

Namun kau salah jika kau menduga aku tidak bahagia. Menduga aku patah hati sepanjang hari. Kau harus tahu, aku sudah kembali bahagia. Aku bisa menikmati hari-hariku. Tak lebih buruk dari pada saat bersamamu. Meski jujur, kuakui di awal kepergianmu. Aku sempat tak percaya lagi untuk memulihkan hati. Namun seiring waktu berlalu, semua perasaan sakit itu pun berlalu. Semuanya kembali lega. Dan kadang, aku hanya ingin mengenangmu. Memilih menuliskan apa saja yang kuingat tentangmu. Tidak ada maksud lain, selain menikmati bahwa ternyata sesekali aku masih merindukanmu.

Jika saat membaca tulisan ini muncul di benakmu pertanyaan: Kenapa kau tidak menulis tentang orang lain saja?

Sebenarnya begini. Aku ini tak selalu menulis tentangmu. Kadang, tulisan sedih yang lain pun. Juga untuk seseorang yang lain. Kau harus pahami. Banyak hal yang aku lakukan di luar sana. Tak hanya denganmu saja aku pernah berbagi cinta. Akan sangat lemah jika kau beranggapan semua yang kutulis adalah perihal kamu. Bagaimana pun juga, bagiku kau hanya sebatas kenangan yang pernah ada. Dan saat ini, aku hanya menikmati rindu yang sesekali masih terasa.

Setelah kau pergi, aku tetap menjadi manusia seperti kebanyakan. Merasakan jatuh cinta lagi. Melakukan hal-hal yang dilakukan orang pacaran lagi. Menikmati masa-masa patah hati lagi. Lalu bertemu dengan cinta yang baru lagi. Aku menikmati semuanya. Aku sama sekali tidak keberatan memahami orang baru. Belajar mengerti lagi. Lalu menjatuhkan hatiku kepadanya. Membiarkan perasaan-perasaan aneh berkembang di dada. Namun sebagai orang yang pernah terlalu dalam mencintaimu tetap saja menyisakan banyak hal.