Sabtu, 20 Desember 2014

Saat Bersungguh-sungguh Mencintai

Perasaan adalah hal yang sangat mungkin berubah dengan cepat. Bisa saja, pagi hari kau begitu sayang pada seseorang, malamnya sudah berubah benci. Namun, perasaan cinta yang  kuat tidak begitu. Ia akan tetap terasa meski berkali-kali hari berganti. Ia akan tetap menjadi hal yang kau inginkan pulang. Meski berkali-kali kau ditinggal pergi. Meski perasaan itu dibunuh olehnya yang kaucintai. Yang namanya perasaan akan tetap menjadi perasaan. Cinta tetaplah cinta. Dalam hal perkara hati, sedih dan bahagia hanyalah suasana. Tidak akan ada yang mampu mengubah apa-apa yang belum seharusnya berubah.

Terkadang seseorang butuh diyakinkan. Bukan karena cintanya begitu tinggi untuk kaugapai. Namun setiap orang punya sisi yang membuatnya tidak mudah lagi percaya. Ia tak mudah lagi menerima orang baru dalam hidupnya. Sebab, terkadang begitu banyak orang baru yang datang. Hanya datang dengan perasaan yang sisa-sisa dan berakhir membuang. Orang-orang yang seperti ini selalu hati-hati untuk hal baru. Ia butuh diyakinkan dengan lebih. Dan itu hal yang wajar saja.

Lalu apakah cinta memang harus meyakinkan? Iya, tentu. Mencintai adalah perkara meyakinkan. Hal yang harus kautunjukan padanya dengan perbuatan. Meyakinkan kau mencintainya bukan berarti kau memaksakan dia tahu kau mencintainya. Tugasmu adalah menjadikan dirimu sebagai makluk yang jatuh cinta dengan layak. Meski untuk hal jatuh cinta yang layak ini susah diterapkan. Begitu banyak orang yang jatuh cinta suka berlebihan. Ya, cinta terkadang memang membuat hal-hal terlihat berlebihan. Itu yang harus dikendalikan.   

Bagi orang-orang yang bersungguh-sungguh, mencintai berarti harus memiliki. Namun tidak semua orang yang bersungguh-sungguh paham. Bahwa mencintai berarti harus memiliki dengan cara tidak memaksakan hati. Kalau memang cinta, tunjukan saja dengan perbuatan. Lakukanlah sepanjang kau bisa. Kalau pada akhirnya apa yang kaulakukan tidak juga membuatnya peduli. Barangkali dia memang bukan cinta sejatimu. Namun, jika dia memang cinta yang dijanjikan Tuhan untukmu. Akan ada-ada saja jalan yang mempertemukan nanti. Meski kadang, butuh waktu yang begitu lama


Minggu, 07 Desember 2014

Tak perlu tergesa-gesa.

Belakangan aku hanya ingin sendiri. Menikmati hari-hari sendiri. Tanpa siapa pun. Tidak ada alasan yang perlu dijelaskan untuk itu. Aku hanya ingin sendiri. Dan itu cukup untuk menjadi alasan yang kuat. Bukankah semua yang kita jalani berawal dari keinginan? Meski tanpa kita sadari, meski tidak atas keinginan kita sendiri. Semisal, kamu harus kuliah di jurusan A, itu ingin orang tuamu. Walau pun kau tak ingin, kau tetap menjalaninya. Apalagi yang sudah menjadi keinginan sendiri, tentu tidak butuh penjelasan. Sebab, apa yang diinginkan diri sendiri memang tidak semuanya harus dijelaskan kepada orang lain. Jika itu berkaitan dengan hal yang bisa dilakukan sendiri. Seperti aku sedang ingin sendiri. 

Tidak kupungkiri, sejak berakhir luka denganmu. Rasanya untuk jatuh cinta kembali cukup sulit. Perasaan yang ada di dadaku semakin rumit. Padahal aku bukan orang yang menutup hati kepada orang lain. Sama sekali tidak. Aku selalu dengan senang hati mengenali orang baru. Namun entah kenapa sejak hari di mana kau dan aku tidak lagi menjadi kita. Aku merasa lebih baik sendiri saja. Sampai waktu yang tidak pernah bisa kuperkirakan. Aku hanya menikmati apa yang aku jalani. Merasa bahagia, meski bukan dengan cara bahagia kebanyakan orang. Berkekasih.

Namun beberapa hari belakangan. Aku merasa nyaman dengan seseorang. Entahlah, perasaan nyaman seperti apa yang aku rasakan. Kami hanya berbalas pesan singkat. Dan terkadang butuh waktu yang lama untuk menerima balasan darinya. Atau aku kadang juga butuh waktu yang lama untuk membalas pesan singkatnya. Bukan karena apa-apa. Aku memang sedang sibuk dengan kuliahku. Hingga saat pesan masuk ke ponsel. Aku sering kali mengabaikan. Maklum saja, selama ini hanya operator selular yang iseng. Atau promo tidak jelas yang mengirimiku pesan singkat. Bukan ngenes, aku memang lebih suka berteleponan kalau sedang ada urusan mendesak.

Entahlah, aku juga tidak mengerti. Beberapa kali menerima pesan singkat darinya. Terasa agak berbeda. Aku seolah menantikan dia membalas pesanku. Meski tetap sibuk dengan pekerjaanku. Tidak ada perasaan menggebu-gebu seperti jatuh cintanya remaja. Semua berjalan dengan semestinya. Aku senang, dia sekarang ada di kepalaku lebih sering dari kesepian tanpamu. Aku senang, jika hari ini aku mulai merasa, aku tidak sedang ingin sendiri. Setidaknya, aku senang membalas pesan singkat darinya. Meski sering membalasnya telat. Ya, tak banyak memang yang bisa kuharapkan, hanya saja, kalau ini jatuh cinta.
Jatuhlah dengan semestinya. Tak perlu tergesa-gesa ~